Sabtu, 20 Agustus 2011

Nrimo, Bego atau Sabar?

Orang-orang ini termasuk dalam kategori judul entries ini.
Lama-lama saya berpikir, saya ini nrimo, bego atau sabar? Selama 5 th ini saya nrimo dikasih penghargaan berapapun, beberapa bulan ini saya sadar bahwa saya bego mengingat diluar reward nya akan lebih besar, detik ini saya mengakui bahwa ini ujian kesabaran saya untuk naik tingkat ke derajat kemuliaan yang lebih tinggi di mata Alloh. Tidak akan ada yang sia-sia di mata Alloh jika kita bersungguh-sungguh untuk melalui ujian yang diberikanNYA.
Namun ini menuntut sebuah keikhlasan. Keikhlasan untuk menerima apa adanya. Keikhlasan untuk menerima perlakuan yang tidak semestinya saya dapat. Ramadhan memang tepat sekali untuk menguji umat manusia, apakah mereka akan sabar dan mampu melewati ujian, atau mereka tergesa-gesa sehingga tidak mampu melewatinya?
Materi berlebih, tidak mampu menolongmu di saat kau mendapatkan ujian kesabaran, selain kau berpegang teguh kepadaNYA. Bersandar padaNYA, menyerahkan diri padaNYA dan berbuat semaksimal mungkin untuk melalui ujian itu.
Saya janji, saya tidak akan pernah menanyakan ini lagi kepada pejabat. Tidak karena itu merendahkan diri saya. Tidak perlu saya mengemis. Orang lain melihat saya berkompeten. Saya mampu. Saya bisa untuk bekerja dengan cinta.
Saya berjanji untuk melaksanakan kewajiban saya, tapi tidak dengan cinta. Karena cinta itu sudah pupus ketika sesuatu hal terjadi dan menyakitkan hati karena kecintaan itu.

Jadi, Nrimo, Bego dan sabar adalah sebuah runutan peristiwa yang tidak bisa terpisah. Itu kesimpulan saya pribadi. Silahkan jika ada yang berpendapat lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar